GENDER
Identitas gender,kesadaran akan kelaki-lakian atau keperempuanan seseorang akan semua implikasinya dalm masyarakat tertentu, merupakan aspek yang penting dalam perkembangan konsep diri.

PERBEDAAN GENDER
            Perbedaan gender adalah perbedaan psikologis atau perilaku antara pria dan wanita. Bagaimana menyatakan perbedaan ini?

            Perbedaan yang dapat diukur antara bayi laki-laki dan perempuan sangat sedikit. Kedua jenis kelamin tersebut sama-sama sensitif terhadap sentuhan dan cenderung untuk tumbuh gigi, duduk, dan berjalan pada usia yang sama (Maccoby, 1980). Bayi perempuan tampaknya memiliki keuntungan biologis; mereka tidak terlalu rentan dibandingkan dengan anak laki-laki dari mulai kehamilan dan seterusnya, berkembang lebih cepat, dan memiliki reaktivitas yang lebih rendah terhadap stes, dan lebih dapat bertahan hidup pada masa bayi (Keenan Dan Shaw, 1997). Di sisi lain bayi laki-laki sedikit lebih panjang dan lebih berat dibandingkan bayi perempuan dan lebik kuat. Sebuah analisi terhadap banyak studi menemukan bayi laki-laki lebih aktif dibandingkan bayi perempuan, walaupun perbedaan ini tidak terdokumentasi secara konsisten (Eaton & Enns, 1986).

            Salah satu dari perbedaan perilaku paling awal, yang mulai muncul pada usia 2 tahun, adalah pemilihan mainan dan aktivitas permainan seta teman bermain dari jenis kelamin yang sama (Turner & Gervai, 1995). Ketika perbedaan gender semakin nyata setelah usia 3 tahun, rata-rata anak laki-laki dan perempuan masih tetap mirip satu sam lain.perbedaan yang paling jelas adalah anak laki-laki, dari masa pra sekolah dan seterusnya, menunjukkan agresi yang lebih jelas baik secara fisik maupun secara verbal (Coei & Dodge, 1998; Turner & Gervai, 1995). Sebagian besar studi menemukan bahwa anak perempuan lebih empati dan prososial (Keenan Dan Shaw, 1997), dan sebagian menemukan anak perempuan lebih patuh dan kooperatif terhadap orang tua dan mencari pembenaran orang dewasa dibandingkan anak laki-laki (N. Eisenberg, Fabes, Schaller, & Miller, 1989; M. L. Hoffman, 1977; Maccoby, 1980; Turner & Gervai, 1995).

            Nilai tes kecerdasan dan keseluruhan secara keseluruhan menunjukkan tidak ada perbedaan gender (Keenan Dan Shaw, 1997). Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar tes yang digunakan secara luas didesain untuk menghilangkan bias gender ( Neiser et al.,1996). Walaupun demikian, terdapat pebedaan nilai kemampuan tertentu. Anak perempuan cenderung lebih baik dalam tugas verbal ( tetapi bukan analogi), pada komputasi matematika, dan pada tugas yang mensyaratkan motoris halus dan keterampilan perceptual, sedangkan anak laki-laki lebih baik dalam hamper seluruh kemampuan spasial dan dalam matematika abstrak serta penalaran ilmiah (Halpern, 1997).

            Sebagian perbedaan kognitif ini di mulai pada usia dini. Superioritas anak perempuan dalam kecepatan perceptual dan kefasihan verbal telah muncul pada masa bayi dan baduta, dan kemampuan terabaik anak laki-laki untuk memanipulasi gambar dan bentuk secara mental serta memecahkan maze telah terbentuk pasda masa prasekolah. Perbedaan lain tidak tampak sampai si anak mencapai masa praremaja atau setelahnya (Halpern, 1997; Levine et al., 1999).

            Sebagai seorang baduta ( toddlers), baik anak laki-laki ataupun anak perempuan sama-sama senang memukul, mencubit, dan melontarkan kemarahan, dan mereka sama-sama cenderung menunjukkan temperamen “pemarah”. Pada usia sekitar 4 tahun, masalah tersebut hilang dari diri anak perempuan, namun anak laki-laki cenderung masih berada dalam masalah. Kediadaan msalah perilaku dikalangan anak perempuan terus berlangsung di usia remaja, ketika mereka lebih mudah cemas dan depresi (Keenan & Shaw, 1997).

            Alasan yang mungkin bagi perbedaan ini sangat mungkin terletak pada perbedaan biologis dan kognitif yang didiskusikan di atas. Tigkan reaktivitas anak perempuan terhadap stress memungkinkan mereka untuk menghadapi frustasi dan rasa marah dengan cara yang lebih terkontrol, dan kemampuan lebih anak perempuan berkaintan dengan bahasa memungkinkan mereka untuk mengkomunikasikan perasaan mereka dengan cara yang lebih sehat. Alasan lainya mungkin terletak pasa cara anak laki-laki dan perempuan disosialisasikan. Anak perempuan, melebihi anak laki-laki, diajarkan untuk mengontrol diri mereka sendiri, untuk berbagai mainan, dan untuk berpikir bagaimana perbuatan mereka memengaruhi orang lain; dan kemampuan empati mereke mungkin membantu mereka menginternalisasikan standar social ( Keenan & Shaw, 1997). Anak perempuan membicarakan pengalaman mereka lebih detail dibandingkan anak laki-laki, dan mereka cenderung membicarakan tentang perasaan, orang-orang, dan hubungan ( Buckner & Fivush 1998).

            Tentu saja kita harus ingat bahwa perbedaan gender hanya valid untuk kelompok anak laki-laki dan perempuan yang besar tetapi tidak selallu valid bagi individu. Dengan mengetahui jenis kelamin anak, kita tidak dapat memprediksi apakah anak laki-laki atau perempuan tersebut akan lebih cepat, lebih kuat, lebih pintar atau lebih aserif dibandingkan anak yang lain.

Referensi
            Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D Human Development (Psikologi Perkembangan Edisi Kesepuluh). Jakarta: Kencana.

Komentar